Salah satu momen favorit kami di setiap batch adalah ketika siswa mempresentasikan final project mereka. Bukan karena semuanya sempurna. Justru karena di situlah terlihat jelas seberapa jauh mereka sudah melangkah selama di bootcamp.
Kali ini kami ingin memperkenalkan PisangDB, final project dari Satriyo Unggul Wicaksono dan Rizky Senja Budiman, dua siswa Fullstack JavaScript Bootcamp Batch 10.
Yang menarik dari cerita mereka, keduanya datang ke Devscale dengan latar belakang yang berbeda. Satriyo sebelumnya adalah seorang fullstack developer, sementara Rizky berasal dari dunia Quality Assurance. Namun di sepanjang bootcamp, mereka berdua sama-sama menemukan banyak hal baru untuk dipelajari, dan itulah yang membuat perjalanan mereka menarik untuk diceritakan.
Masalah yang mereka coba selesaikan
Kalau kamu pernah ngoprek database di lokal, kamu pasti kenal rasa sakitnya. Install PostgreSQL, atur user dan password, bikin database, import schema, lalu berdoa semoga versi engine-nya cocok dengan project yang sedang kamu kerjakan. Belum lagi database development yang lama-lama jadi berantakan penuh tabel-tabel percobaan yang sudah tidak jelas asal-usulnya. Dan kalau besok kamu mau test schema migration yang belum tentu aman, kamu punya dua pilihan: menerima risiko di database yang sudah kotor, atau setup ulang dari awal yang memakan waktu lagi.
Satriyo dan Rizky melihat masalah ini dari sudut pandang yang berbeda. Satriyo, dari kacamata fullstack developer yang sudah sering berhadapan dengan setup project baru. Rizky, dari kacamata QA yang terbiasa memikirkan environment yang bersih dan reproducible. Dan mereka sampai pada jawaban yang sama: kenapa kita masih menyimpan sesuatu yang sifatnya hanya sementara?
Dari situ, PisangDB lahir.
PisangDB adalah tool untuk membuat database sandbox dalam hitungan detik. Kamu pilih engine (PostgreSQL, MySQL, atau MariaDB), tentukan berapa lama ia akan hidup, dan dalam beberapa detik kamu sudah punya credentials yang siap dipakai. Setelah TTL-nya habis, database itu otomatis dibersihkan. Tidak ada sisa, tidak ada beban, tidak perlu bersih-bersih manual.
Sederhana. Tapi ketika kamu mencobanya sekali, kamu akan sulit kembali ke cara lama.

Fitur-fitur yang mereka bangun
Yang membuat PisangDB terasa istimewa bukan sekadar idenya, melainkan seberapa jauh mereka berhasil mewujudkannya dalam waktu yang terbatas. Dalam beberapa minggu pengerjaan final project, mereka berhasil menyelesaikan dan merilis fitur-fitur berikut:
- Multi-engine sandbox untuk PostgreSQL 16, MySQL 8, dan MariaDB 11. Satu dashboard, tiga engine utama yang paling sering dipakai developer.
- Credentials instan yang muncul dalam hitungan detik setelah sandbox dibuat. Tinggal copy, paste ke project, langsung jalan.
- SQL Console berbasis browser yang memungkinkan kamu langsung menjalankan query tanpa perlu install client seperti DBeaver atau TablePlus.
- AI Seeder yang bisa men-generate schema dan data awal hanya dari deskripsi sederhana. Bilang saja “aku butuh tabel products dengan beberapa data dummy”, dan ia akan mengerjakannya untukmu.
- Auto cleanup via TTL dengan rentang dari 1 jam hingga 7 hari. Sandbox yang habis masa hidupnya akan dibersihkan otomatis, tanpa perlu intervensi.
Dan semua itu berjalan di infrastruktur yang mereka siapkan sendiri, dengan Docker sebagai tulang punggung untuk provisioning setiap sandbox. Bukan demo, bukan mock. Sebuah sistem yang benar-benar hidup dan siap dipakai.

Tech stack yang mereka pilih
Ini bagian yang menurut kami paling menarik.
Sebagian besar stack yang dipakai PisangDB sebenarnya adalah stack yang memang mereka pelajari di kelas. TanStack Start, TanStack Query, Tailwind, shadcn/ui, integrasi dengan AI provider, semuanya adalah bagian dari kurikulum Fullstack JavaScript Bootcamp. Dan mereka memanfaatkannya dengan sangat baik.
Tapi ada beberapa bagian di mana Satriyo dan Rizky sengaja mengambil jalur yang berbeda dari apa yang kami ajarkan:
- Frontend: TypeScript, TanStack Start, Tailwind CSS, shadcn/ui, dan TanStack Query.
- Backend: TypeScript, Drizzle ORM (bukan Prisma yang kami ajarkan di kelas), dan better-auth untuk sistem otentikasi.
- Infrastruktur: Docker untuk provisioning tiap sandbox.
- AI layer: integrasi dengan AI provider yang bisa dikonfigurasi untuk fitur seeder.
Drizzle dipilih karena pendekatan schema-first dan query builder-nya yang lebih cocok dengan karakter PisangDB yang banyak bermain dengan schema dinamis. Dan better-auth dipilih karena fleksibilitasnya dalam menangani session dan credentials untuk use case yang agak tidak biasa seperti sandbox yang punya masa hidup terbatas.
Yang kami suka dari keputusan ini bukan karena tools-nya lebih keren, melainkan karena alasannya jelas. Mereka tidak sekadar mengikuti apa yang diajarkan di kelas, dan juga tidak sekadar mengganti tools demi terlihat berbeda. Mereka mempelajari apa yang dibutuhkan, membandingkannya dengan apa yang mereka kuasai, dan mengambil keputusan sesuai kebutuhan produk. Itulah mindset yang kami harap bisa terbawa oleh setiap siswa yang lulus dari Devscale.
Membagi kerja, bukan sekadar membagi task
Salah satu hal yang kami apresiasi dari proyek ini adalah bagaimana mereka membagi pekerjaan. Satriyo fokus pada dashboard, UX, UI untuk AI Seeder, SQL Console, dan stabilitas deployment. Rizky menangani fitur backend, template database, alur akun, dan kompatibilitas antar engine.
Dan ini bukan sekadar soal membagi task. Yang sulit dari kerja berpasangan adalah menyelaraskan ritme dengan orang lain, saling mempercayai keputusan teknis pasangannya, dan menjaga satu visi produk sepanjang proses. Apalagi ketika keduanya datang dari latar belakang yang berbeda, dengan sudut pandang yang juga berbeda dalam memandang produk.
Yang sebenarnya mereka pelajari
Baik Satriyo yang datang sebagai fullstack developer maupun Rizky yang datang dari dunia QA, keduanya sama-sama belajar hal-hal yang sering kali baru kelihatan ketika kamu mencoba membangun sesuatu yang sesungguhnya:
- Bagaimana memilih scope yang realistis untuk waktu yang terbatas.
- Bagaimana mengambil keputusan teknis dengan pertimbangan produk, bukan sekadar preferensi pribadi.
- Bagaimana menerima feedback tanpa harus mengubah arah setiap kali ada masukan.
- Bagaimana menyelesaikan sesuatu sampai benar-benar bisa dipakai, bukan sekadar “berjalan di lokal”.
Hal-hal seperti ini jarang muncul ketika kamu belajar sendirian. Biasanya ia baru kelihatan ketika ada yang mengingatkan, atau ketika kamu sudah terlanjur mengambil jalan yang kurang tepat dan perlu balik lagi.
Lebih dari sekadar demo
PisangDB bukan sekadar demo yang terlihat bagus di hari presentasi. Ia adalah produk yang sudah di-deploy, bisa langsung diakses publik di pisangdb.com, dan menyelesaikan masalah nyata yang dirasakan banyak developer, termasuk siswa bootcamp itu sendiri.
Kami pribadi cukup yakin PisangDB punya umur yang lebih panjang dari sekadar final project. Ia punya ide yang jelas, eksekusi yang rapi, dan dua orang builder yang tahu kenapa mereka membangunnya. Tiga hal yang sering sekali kurang pada proyek-proyek serupa.
Selamat untuk Satriyo dan Rizky. Kami tidak sabar melihat ke mana PisangDB akan dibawa selanjutnya.
Kenalan dengan builder-nya
- Satriyo Unggul Wicaksono. Mengerjakan dashboard, UX, AI Seeder UI, SQL Console, dan deployment. Sapa beliau di LinkedIn.
- Rizky Senja Budiman. Mengerjakan backend features, database templates, account flows, dan engine compatibility. Sapa beliau di LinkedIn.
Kalau kamu seorang recruiter, founder, atau sesama developer yang membaca ini, silakan mampir ke profil mereka. Mereka adalah contoh konkret dari jenis talent yang kami bantu persiapkan di Devscale.
Coba sendiri
- Kunjungi pisangdb.com dan buat sandbox pertamamu.
- Lihat presentasi lengkap mereka untuk memahami cerita di balik produknya.
- Tertarik membangun produkmu sendiri di bootcamp? Cek programs kami.